Tuesday, June 8, 2010


Pertanyaan: Apa hukum bertepuk tangan bagi laki-laki pada waktu tertentu dan pertemuan-pertemuan?

Jawapan;

Bertepuk tangan dalam pertemuan-pertemuan merupakan perbuatan jahiliah. Pendapat yang paling ringan menyatakan hukumnya makruh. Dan yang lebih nyata dari dalil-dalil yang ada adalah bahwa hal itu haram, kerana kaum muslimin dilarang menyerupai orang-orang kafir.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyebutkan sifat orang kafir penduduk Makkah:

وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاءً وَتَصْدِيَةً


“Solat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan.” (Al-Anfal: 35)

Para ulama berkata: الْـمُكَاءُ adalah siulan sedangkan التَّصْدِيَةُ adalah tepuk tangan. Dan yang sunnah bagi seorang mukmin ketika melihat atau mendengar sesuatu yang mengagumkan atau yang dia ingkari adalah mengucapkan Subhanallah (Maha Suci Allah) atau Allahu Akbar (Allah Maha Besar), sebagaimana hal ini shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits.

Dan disyariatkan tepuk tangan khusus bagi wanita ketika mereka mengingatkan sesuatu dalam shalat, atau ketika mereka shalat bersama laki-laki dan imamnya lupa. Ketika itu disyariatkan bagi wanita untuk mengingatkan dengan tepukan tangan. Adapun laki-laki mengingatkan imam dengan tasbih (ucapan Subhanallah) sebagaimana hal ini shahih dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini diketahui bahawa tepuk tangan bagi lelaki adalah perbuatan menyerupai orang kafir dan wanita. Keduanya merupakan hal yang dilarang bagi kaum lelaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang memberi taufiq.

Wallahu'alam

(Disebarkan dalam Fatawa beliau pada kolum Is`alu Ahla Adz-Dzikr yang beliau keluarkan dalam majalah bulanan Al-Arabiyyah, diambil dari Fatawa wa Maqalat Ibn Baz, jilid 6)

Posted on Tuesday, June 08, 2010 by Qalam Sufi

No comments


Assalamualaikum warohmatullah hiwabarokatuh, kepada pembaca yang budiman, sebelum membaca artikel ini elok ana berpesan dahulu, mungkin artikel ini akan mengelirukan anda semua kerana ianya memerlukan pemahaman yang tinggi dan pemikiran yang tajam. Artikel ini asalnya dalam bahasa indonesia, jadi ana terjemahkan dalam bahasa Melayu, maaf jika ada yang tersalah alih bahasa atau ada yang ana tertinggal atau ada yang ana sendiri tau tau nak terjemahkan dalam melayunya bagaimana, harap maklum...

Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur'an. Dan seluruh kandungan Al-Qur'an ada di dalam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillnahirrahmaanirrahiim. Bahkan disebutkan dalam hadits lain,"setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa', dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa'".

Sebagian para Arifin menegaskan, "Dalam perspektif orang yang ma'rifat kepada Allah, Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan "kun" dari Allah”.

Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillahirrahmaanirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur'an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa', manfaat dan rahsianya.

Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkait antara satu sama lainnya, kerana seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.

Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa' adalah awal mula setiap surah dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun dari titik, dan sudah semestinya setiap surah ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Kerana itu menjadikan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surah iaitu Kitab Allah Ta’ala.

Kerangka hubungan antara huruf Baa' dengan Tititknya secara komprehensfih akan dijelaskan berikut nanti. Bahwa Baa' dalam setiap surah itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Bassmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa' itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Kerana itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur'an mesti diawali dengan Baa' sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur'an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa', akhirnya pada titik.

Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa' ( ت ) dengan dua titik, lalu anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’( ث ), maka yang anda baca tidak lain kecuali titik itu sendiri. Sebab Taa'( ت ) bertitik dua, dan Tsaa' ( ث )bertitik tiga tidak terbaca,kerana bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeza dengan lainnya. Kerana itu dengan titik itulah masing-masing dibezakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenali kecuali Allah.

Bahwa anda mengenal-Nya dari makhluk, sesungguhnya anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada titik tersebut. Ada sebagian yang nampak pada kenyataannya seperti huruf Alif ( أ ) dan huruf-huruf tanpa Titik. Kerana huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif ( أ ) lebih mulia dibanding Baa' ( ب ),kerana titiknya itu menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa' ( ب ) itu sendiri tidak nampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa' ( ب ) tidak akan nampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Kerana titik sesuatu huruf merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara itu penyatuan antara faktor lain ialah faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.

Huruf Alif ( أ ) itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda boleh mengatakan bahwa Baa' ( ب ) itu adalah Alif ( أ ) yang di datarkan seperti Jiim ( ج ), misalnya, adalah Alif ( أ ) dibengkokkan' dua hujungnya. Daal ( د ) adalah Alif ( أ ) yang ditokok ditengahnya.

Sedangkan Alif ( أ ) dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat masing-masing huruf tersusun dari titik. Sementara titik bagi setiap huruf ibarat nukleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif ( أ ) dengan kerangkanya seperti kedudukan titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif ( أ ) sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’( ب ) adalah Alif ( أ ) yang terdatarkan.

Demikian pula hakikat Nabi Muhammad saw merupakan inti dimana seluruh alam semesta ini diciptakan dari hakikat Muhuhammad saw itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang menyebutkan Allah swt menciptakan ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah sifat zahirnya Allah dalam makhluk melalui nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah. ( *perlu jelas di sini, bukan maksud Nabi Muhammad itu dari segi zahir bagi Allah ataupun jelmaan dari Allah )

Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra'kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif ( أ ), walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif ( أ ) merupakan manifestasi titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya Alif ( أ ) memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah titik tidak lain kecuali berada satu darjat. Kerana dua titik disusun dua bentuk alif, maka Alif ( أ ) menjadi sesuatu yang memanjang. Kerana dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.

Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif ( أ ),seperti huruf Jiim ( ج ). Pada kepala huruf Jiim ( ج ) ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Setiap huruf selain Alif ( أ ) memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif ( أ ) sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik tidak punya bentangan. Hubungan Alif ( أ ) diantara huruf-huruf yang tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya (ulama'). Kerananya Alif ( أ ) mendahului semua huruf.

Diantara huruf-huruf yang mempunya titik di atasnya, ada pula yang mempunya titik dibawahnya,yang pertama (titik di atas) ibarat "Aku tidak melihat sesuatu (sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana".

Diantara huruf itu ada yang mempunyai titik di tengah, seperti titik putih dalam lubang huruf
Mim ( م ) dan Wawu ( و ) dan lain-lain, maka posisinya pada tahap, "Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya." Kerananya titik itu berlubang, sebab dalam lubang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri lingkaran kepada kepala Miim ( م ) menempati tahap, "Aku tidak melihat sesuatu" sementara titik putih menempati "Kecuali aku melihat Allah di dalamnya."

Alif ( أ ) menempati posisi "Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu maka sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah." Kalimat "sesungguhnya" menempati posisi erti "Tidak", dengan huraian "Sesungguhnya orang-orang berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah."

Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu baginda bersyahadat kepada bersyahadat kepada Allah dan pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Ertinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt


Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, "Tafsirul Qur'anil Karim" menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, beerti Asma Allah Ta’ala ( Nama-nama Allah) sifat yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta'ala. Sedangkan wujud Asma (nama-nama) itu sendiri
menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.

Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian "Tidak membuat penyifatan".

"Ar- Rahman" adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan kesempurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah.

dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

"Ar-Rahiim" adalah yang melimpah bagi kesempurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Kerana itu sering. disebutkan, "Wahai Yang Maha Rahman bagi dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat".

Ertinya, adalah sifat kemanusiaan yang sempurna, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, "Aku diberi anugerah menyeluruhi Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) kesempurnaan akhlak".

Kerana. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai kalimat dari Allah, sedangkan kesempurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagat kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi - alaihimus salam - meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini boleh ditemui dalam pada zaman Isa as, zaman Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

Disebutkan, bahwa wujud ini muncul dari huruf Baa’( ب ) dari Basmalah. Kerana Baa’( ب ) tersebut mengiringi huruf Alif ( أ ) yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya, "Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan daripada dirimu, dan denganmu Aku memberi, denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa". (Al-hadits).

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

18 huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Kerana huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Kerana itu difahami sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bahagian-bahagian tersendiri.

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan alam kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam haiwan, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, roh adalah alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.
Tiga Alif ( أ أ أ ) yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af 'aal ( perbuatan ). Yaitu tiga alam ketika dipisah-pisah, dan satu alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.

Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa', "dari mana hilangnya Alif itu?" Maka Rasulullah saw, menjawab, "Dicuri oleh Syaitan".

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa'nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan boleh dikenal kecuali oleh ahlinya. Kerananya, dalam hadist disebutkan, "Manusia diciptakan menurut gambaran Nya".

Dzat sendiri tersembunyi oleh Sifat, dan Sifat tersembunyi oleh Af'aal. Af'aal tersembunyikan oleh jagat-jagat dan makhluk.

Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af'aal Allah dengan terbukanya hijab jagat raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan terbuka hijab Af'aal, ia akan redha dan pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya hijab Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih penyatuan mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca "Bismillahirrahmaanirrahiim".

Tauhidnya af'aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, "Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu".

Wallahu'alam

sumber ; sufinews

Posted on Tuesday, June 08, 2010 by Qalam Sufi

1 comment

Monday, June 7, 2010



Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahawa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?

Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahawa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

JAWAPAN

Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surah. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeza-beza itu pasti memiliki dimensi yang berbeza pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan getaran dan darjat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeza. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeza dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu bererti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat neraka tertentu.

Jika Naar kita maknakan secara umum, justeru menjadi zalim, kerana faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak boleh disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeza dengan Neraka belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surah Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeza. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, kerana didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeza. Kerana yang terakhir ini berhubungan dengan kelayakan keimanan hamba kepada Allah, bahawa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahawa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kelayakan keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Roh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fizik dan siksa fizik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kelayakannya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.

Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga mahupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, kerana perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualiti moral seorang pekerja di tempat kerja juga berbeza-beza, walau pun teknik dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari wang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan mencintai pekerjaan dan mencintai ketuanya tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualiti moral dan jadual kerjanya yang berbeza. Bagi seorang ketua yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, dibandingkan dengan para pekerja yang hanya mencari untung belaka, sehingga mereka bekerja tanpa roh dan spirit yang luhur.

Kerana itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeza dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sifat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeza dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual haiwan.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeza-beza. Kerana nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fizik dengan kenikmatan fizik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan simbol berbeza-beza, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kelayakan yang bersifat lahiriyah mahupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka persepsi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu haiwaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang ideal dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang boleh menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kelayakan syurgawinya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Kerana hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “kerana Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira kerana syurgaNya.

Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang boleh wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda boleh merenungkan sendiri, betapa tundingan-tundingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, boleh terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

Posted on Monday, June 07, 2010 by Qalam Sufi

No comments

Sunday, June 6, 2010


Fadilatusy Syaikh ditanya: Apa alasan dilarangnya pengkhususan hari Jum’at untuk berpuasa? Dan apakah ini khusus untuk puasa sunnah saja atau umum bagi puasa qadha juga?

Maka Asy-Syaikh menjawab:

Telah tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

“Janganlah kalian khususkan hari Jum’at dengan berpuasa, dan tidaklah pula malamnya untuk ditegakkan (shalat).” (HR. Muslim, Kitabus Shiam Bab Makruhnya Puasa Khusus di Hari Jum’at, 1144)

Hikmah dalam larangan pengkhususan hari Jum’at dengan puasa adalah bahwa hari Jum’at merupakan hari raya dalam tujuh hari (seminggu-ed). Hari Jum’at juga merupakan salah satu hari raya dari tiga hari raya yang disyari’atkan.

Di dalam Islam terdapat tiga hari raya: Hari raya Aidilfitri setelah Ramadhan, Hari Raya Aidiladha, dan hari raya mingguan yaitu hari Jum’at. Ini merupakan salah satu alasan larangan mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa.

Selain itu hari Jum’at adalah hari di mana diwajibkan bagi golongan lelaki
mendirikan solat Jum’at pada hari itu, menyibukkan diri dengan doa, dan berzikir kerana hari Jum’at ini serupa dengan hari Arafah yang tidak disyaratkan bagi jama’ah haji untuk berpuasa pada hari Arafah itu. Hal ini kerana dia sibuk dengan doa dan dzikir.

Dan telah diketahui pula bahwa ada ibadah-ibadah yang saling bertindih, dan mungkin untuk mendahulukan sebahagiannya maka didahulukan ibadah yang tidak boleh ditunda dari ibadah yang boleh ditunda.

Jika seseorang berkata, “Jika alasannya kerana hari Jum’at adalah hari raya dalam seminggu, maka ini mengharuskan puasanya haram sebagaimana di dua hari raya yang lain, tidak hanya dengan mengkhususkannya saja.”

Kami katakan, “Sesungguhnya hari Jum’at berbeza dengan dua hari raya tersebut, kerana hari Jum’at terulang sampai empat kali dalam sebulan. Oleh kerana itu larangannya tidaklah sampai pada darjat haram. Di sana terdapat juga makna-makna lain pada dua hari raya yang tidak ditemukan pada hari Jum’at.”

Adapun jika dia berpuasa di hari sebelumnya atau di hari setelahnya maka puasanya saat itu diketahui bahwa tidak dimaksudkan untuk mengkhususkan hari Jum’at dengan puasa; kerana dia berpuasa sehari sebelumnya iaitu Khamis atau sehari sesudahnya yaitu hari Sabtu.

Sedangkan pertanyaan penanya, “Apakah larangan ini khusus untuk puasa sunnah atau umum bagi puasa qadha juga (membayar hutang puasa wajib Ramadhan-ed)?”

Maka sesungguhnya zahir dalilnya bersifat umum, bahwa hukumnya makruh mengkhususkan puasa. Sama saja apakah untuk puasa yang wajib atau puasa sunnah, kecuali jika orang tersebut bekerja dan tidak punya waktu luang dari pekerjaannya sehingga dia tidak boleh mengqadha puasanya kecuali pada hari Jum’at, maka ketika itu tidaklah makruh baginya untuk mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa. Ini kerana dia memerlukan hal tersebut.

Demikian nukilan dari fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, boleh dirujuk di halaman 444-445.
Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/04/hukum-berpuasa-di-hari-jumaat/

Posted on Sunday, June 06, 2010 by Qalam Sufi

No comments


Oleh: Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Beliau berkata: Perkara ini -menurut keyakinan kami- adalah masuk ke dalam keumuman hadits “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru kerana setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat”, dalam hadits lain “Setiap kesesatan dalam Neraka”.

Banyak dikalangan kita mempunyai pendirian tertentu dalam menyikapi hal ini, mereka mengatakan, “Ada apa dengan mencium mushaf? Bukankah ini hanya untuk menampakkan sikap membesarkan dan mengagungkan Al Qur’an?”

Kita katakan kepada mereka, “Kalian benar, tak ada apa-apa melainkan hanya pengagungan terhadap Al Qur’anul Karim, tetapi perhatikanlah, apakah sikap pengagungan ini luput atas generasi umat yang pertama, yang mereka tiada lain adalah para sahabat Rasulullah demikian pula para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in setelahnya?” Tidak ragu lagi jawabannya adalah seperti jawaban Ulama Salaf, ” Jika perkara itu baik, tentu mereka akan mendahului kita padanya”.

Ini satu masalah, masalah yang lainnya adalah apa hukum asal mencium sesuatu, bolehkah atau terlarang?

Di sini perlu kami paparkan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abbas bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat Umar bin Khattab mencium hajar aswad dan berkata, “Sesungguhnya aku tahu engkau adalah batu, tidak dapat memberi mudharat tidak pula memberi manfa’at, sekiranya bukan kerana aku telah melihat Rasulullah menciummu aku tak akan menciummu”".

Kalau demikian, kenapa Umar mencium hajar aswad? Apakah kerana filsafat yang muncul darinya?

Jadi asal hukum mencium ini hendaknya berjalan di atas sunnah yang dulu. Ingatlah sikap Zaid bin Tsabit beliau telah berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah?”.

Jika ditanyakan kepada yang mencium mushaf, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah?”, ia akan mengarahkan jawaban yang aneh sekali, seperti “Hai saudaraku ada apa dengan ini? Ini mengagungkan Al Qur`an!”, maka katakan padanya, “Hai saudaraku, apakah Rasulullah tidak mengagungkan Al Qur`an? Tidak ragu lagi bahwa beliau mengagungkan Al Qur`an, walau demikian beliau tidak menciumnya”.

Saya katakan, “Tidak ada jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan apa yang telah disyari’atkanNya, oleh kerana itu kita bertindak sesuai dengan apa yang disyari’atkan untuk kita dari keta’atan dan ibadah-ibadah, tidak menambahinya walau satu kata, kerana hal ini seperti ucapan Nabi, “Tidak aku tinggalkan sesuatupun yang Allah telah perintahkan kalian, kecuali aku telah perintahkan kalian dengannya”".

Oleh kerana itu maka mencium mushaf (Al Qur’an) adalah bid’ah, dan setiap kebid’ahan adalah sesat, setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Wallahu'alam

Dinukil dari “Kaifa Yajibu ‘Alaina An-Nufassirol Qur’an” Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Bandung Edisi ke-5 Tahun ke-1 / 10 Januari 2003 M / 06 Dzul Qo’dah 1423 H

Posted on Sunday, June 06, 2010 by Qalam Sufi

No comments


Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini kepada 8 pendapat, dan yang rajih wallahu a’lam adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidur itu membatalkan wudhu secara mutlak berdasarkan beberapa dalil:

1. Hadits Shofwan bin ‘Assal radliyallahu ‘anhu ia berkata:

كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَوْ مُسَافِرِينَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk tidak mencabut khuff selama tiga hari tiga malam ketika buang air besar, buang air kecil dan tidur, kecuali bila mandi janabah (harus dibuka)”. (HR At Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya).[1]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyamakan tidur dengan buang air besar dan kecil, dan hadits ini mutlak mencakupi semua jenis tidur baik sebentar maupun lama, baik berat maupun ringan.

2. Hadits Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu:

إِنَّ السَّهَ وِكَاءُ الْعَيْنِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya dubur itu pengikatnya adalah mata, maka barang siapa yang tidur hendaklah ia berwuduk”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya no 887 dari jalan Ali bin Bahr haddatsana Baqiyyah bin Al Walid Al Himshi haddatsani Al Wadliin bin ‘Atha dari Mahfudz bin ‘Alqamah dari Abdurrahman bin ‘Aidz Al Azdiy dari Ali bin bi Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Qultu: “Sanad hadits ini hasan karena Mahfudz bin ‘Alqamah adalah perawi yang shaduq sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz dalam taqribnya, dan Al Wadliin yang rajih adalah perawi yang tsiqah, ia dianggap tsiqah oleh ibnu Ma’in dan imam Ahmad bin Hanbal, dan Baqiyyah walaupun ia perawi mudallis namun ia mengucapkan haddatsana dari Al Wadliin sehingga hilang syubhat tadlisnya”.

Dan hadits ini mempunyai syahid dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan diriwayatkan oleh Ad Daraquthni dalam sunannya no 2 dan Ad Darimi juga dalam sunannya no 722 dan yang lainnya dari jalan Baqiyah dari Abu Bakar bin Abi Maryam haddatsani ‘Athiyyah bin Qais Al Kilaa’i dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mata adalah pengikat dubur, apabila mata tertidur maka terbukalah pengikatnya”. Qultu: “Sanad ini lemah kerana Baqiyyah ini tsiqah namun mudallis dan meriwayatkan dengan lafadz ‘an dan Abu Bakar bin Abi Maryam ini lemah, dan Baqiyyah dimutaba’ah oleh Al Walid bin Muslim yang juga mudallis, dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam mu’jam kabirnya no 875. Dan Abu Bakar diselisihi oleh Marwan bin Janah yang meriwayatkan dari ‘Athiyah dari Mu’awiyah secara mauquf dikeluarkan oleh Al baihaqi dalam sunannya 1/118 no 591 dan Marwan bin Janah dikatakan oleh Al Hafidz: “Laa basa bihi”. Oleh karena itu Al Walid berkata: “Marwan lebih tsabit dari Abu Bakar”. Ertinya bahwa periwayatan Marwan lebih kuat sehingga yang rajih hadits ini adalah mauquf. Akan tetapi hadits ini menjadi terangkat menjadi hasan kerana dikuatkan oleh hadits Ali di atas, dan hadits Ali naik menjadi shahih lighairihi dengan hadits Mu’awiyah ini.[2]

nota :

Sebagian ulama menuduh Baqiyyah bin Al Walid sebagai perawi yang suka melakukan tadlis taswiyah, namun tuduhan ini tidak benar sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Hibban dalam kitab Al Majruhin 1/201, beliau berkata: “Sesungguhnya Baqiyyah ini diuji oleh murid-muridnya yang menggugurkan perawi-perawi yang lemah dan mentaswiyahnya, maka menempellah (tuduhan tersebut) semuanya kepada Baqiyyah”.[3]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan orang yang tidur untuk berwuduk, dan perintah ini juga bersifat mutlak baik tidur yang berat maupun tidur yang ringan.

3. Kesepakatan para ulama bahwa orang yang hilang akalnya seperti pingsan dan gila wajib berwuduk bagaimanapun keadaannya.

Ini adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa tidur membatalkan secara mutlak, namun disana ada dalil-dalil yang menunjukkan bahwa tidur tidak membatalkan wuduk, diantaranya adalah hadits ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma ia berkata:

ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“…Kemudian beliau tidur sampai aku mendengar suara mendengkurnya, kemudian beliau keluar menuju solat. (HR Bukhari dan Muslim).[4]

Demikian pula hadits Anas radliyallahu ‘anhu ia berkata:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

“Adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur kemudian solat dan tidak berwuduk lagi”. (Muslim).[5]

Dan dalam riwayat lain dijelaskan:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ

“Adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu solat isya sampai kepala mereka terkantuk-kantuk kemudian mereka shalat dan tidak berwuduk lagi”. (HR Abu Dawud).[6]

Akan tetapi hadits-hadits tersebut tidak dapat mengalahkan kekuatan hadits yang menunjukkan bahwa tidur itu membatalkan wuduk, dari beberapa sisi:

Pertama: Bahwa hadits-hadits tersebut adalah hikayat perbuatan atau disebut juga waqi’atul ‘ain sedangkan waqia’tul ‘ain tidak berlaku umum sebagaimana yang disebutkan dalam ushul fiqih, kerana ia mempunyai banyak kemungkinan diantaranya adalah adanya kemungkinan belum adanya perintah untuk berwuduk pada waktu itu lalu kemudian diperintahkan, dan kaedah juga mengatakan: “Apabila sebuah dalil mempunyai beberapa kemungkinan yang sama kuatnya maka tidak boleh dijadikan dalil”.

Kedua: Bahwa hadits-hadits yang membatalkan bersifat qouli (perkataan) sedangkan hadits-hadits yang tidak membatalkan bersifat fi’il (perbuatan) dan kaedah ushul berkata: “Apabila perkataan bertindih dengan perbuatan maka lebih didahulukan perkataan”.

Ketiga: Al Khathabi berkata: “Hakikat tidur adalah ketidaksedaran yang berat yang menimpa hati sehingga memutuskannya dari mengetahui perkara-perkara yang bersifat lahiriyah. Sedangkan mengantuk adalah orang yang diberatkan oleh sesuatu yang berat (keinginan tidur yang sangat berat) sehingga mencegahnya untuk mengetahui perkara yang batin”.[7] Dengan definisi ini kita dapat memahami bahwa hadits ibnu Abbas dan Anas tersebut masuk dalam kategori mengantuk.

Wallahu a’lam.

[1] Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam sunannya, ibnu Majah dalam sunannya dan lainnya semuanya dari jalan ‘Ashim bin Bahdalah dari Zirr bin Hubaisy dari Shofwan. Qultu: “Sanad hadits ini hasan karena ‘Ashim adalah perawi yang hasan haditsnya, Al Hafidz berkata dalam At Taqrib: “Shaduq lahu auham”.

[2] Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah. Lihat shahih Jami’ Ash Shaghier no 4148 dan 4149.

[3] Lihat penjelasannya dalam kitab silsilah ahadits dla’ifah 12/107-111.

[4] Bukhari no 117, dan Muslim no 763.

[5] Muslim no 376.

[6] Abu Dawud no 200 dengan sanad yang hasan.

[7] Lihat tamamul minnah hal 101.

Sumber : Website Ust. Badrusalam

*Lebih baik berwuduk apabila apabila bangun dari tidur kerana dengan berwuduk dapat menyegarkan mata dan badan...lantas solat yang dilaksanakan lebih khusyuk berbanding solat yang tanpa wuduk (selepas bangun dari tidur).

Posted on Sunday, June 06, 2010 by Qalam Sufi

No comments