Monday, December 20, 2010


“Wanita itu aurat, maka bila ia keluar rumah syaitan menyambutnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1183, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 273, ''

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah dahulu.'' (Al-Ahzab : 33)

Didalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Janganlah seorang wanita pergi (lebih dari) tiga hari kecuali bersamanya seorang mahram.” (HR. Muslim)

Menurut ayat Allah tersebut memang maksud ketentuan syari'atnya menyeru para wanita agar menetap di rumah, menahan diri agar tidak keluar kecuali untuk suatu kepentingan.Namun nasihat Al-Qur'an tersebut bukan bermaksud bahawa kaum  wanita harus menetap di rumah selama-lamanya dan tidak boleh keluar sama sekali, juga bukan bermaksud merendahkan kehormatan wanita apalagi mengikis kehidupan sosialnya, sebagaimana tuduhan kebanyakan musuh-musuh Allah, justeru sebaliknya Al-Qur'an ingin menunjukkan suatu jalan pemeliharaan diri yang dapat ditempuh dengan kehendaknya sendiri dan bukan ditentukan oleh kehendak orang lain

 Syarat-syarat keluar rumah bagi para wanita:

1.  ADANYA IZIN, Menurut Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa menyebutkan bahwa dalam hal meminta izin ini ada dua hal, yaitu bagi wanita yang telah menikah, izin yang dimaksud adalah izin dari suami, sedang bagi wanita yang belum menikah izinnya adalah izin dari orang tuanya. Dan untuk meminta izin, ada izin umum dan ada izin khusus. Izin umum adalah meminta izin keluar rumah untuk keperluan yang memang dianggap keperluan rutin, seperti belanja, sekolah dllnya. Hal ini tidak perlu setiap kali keluar meminta izin tapi cukuplah sekali minta izin, sedang untuk meminta izin untuk keperluan yang jarang-jarang seperti silaturrahim, menjenguk orang sakit dllnya, maka perlu meminta izin dahulu setiap akan pergi untuk keperluan tersebut.

2.  UNTUK KEBAIKAN, seperti:· Pergi menuntut ilmu· Pergi untuk beramar ma'ruf nahi munkar (berda'wah)· Silaturrahiim· Berdagang atau bekerja

3.  TIDAK BERTABARRUJ maksudnya tidak bersolek dan berdandan, tidak memakai perhiasan-perhiasan yang menarik, sehingga mengundang syahwat kaum lelaki, juga tidak memperlihatkan keindahan tubuhnya.

4.  MENUTUP AURAT DAN MENJAGA ADAB-ADAB ISLAM Menutup aurat ketika keluar rumah merupakan kewajiban syar'i yang harus dipatuhi oleh setiap muslimah yang telah akil baligh, busana yang menjadi standard syar'i adalah sebagai berikut:

a.  Menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan, ( jika tetap mendatangkan fitnah berpurdah lebih dituntut )

b.  Tidak ketat hingga lekuk tubuh tidak terlihat.

c.  Tidak tipis hingga warna kulit tidak terlihat.

d.  Tidak menyerupai laki-laki

e.  Tidak berwarna terang hingga menarik perhatian orang.

f.  Dipakai bukan maksud mempamerkan dan tidak bergambar makhluk hidup.


Firman Allah s.w.t

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanitanya kaum mukminin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih mudah bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu…” (Al-Ahzab: 59)

Adapun adab-adab Islam juga harus dijaga antaranya, menjaga pandangan, tidak ikhtilat (berdua-duaan dengan lawan jenis), tidak berbicara dengan suara yang menimbulkan rangsangan, tidak berjalan berlenggang-lenggok dan lain sebagainya yang akan merosak citra Islam.


PERHATIN...!!!!!

Jika salah satu syarat daripada al-Quran dan Sunnah baginda itu tidak dapat dipenuhi, maka seseorang muslimah itu perlu mengekalkan hukum untuk menetap di rumah adalah lebih baik untuk mengelak diri dari FITNAH DAN DOSA BESAR...

Mereka yang bercinta sambil bercouple keluar berdua-duaan dengan pasangan kekasih sambil membonceng dan berpelukan diatas motor adalah satu perbuatan yang keji dan terkutuk dan mendapat laknat dari Allah s.w.t atas perbuatan maksiat tersebut kerana ia jelas lagi nyata telah melanggar hukum syar'i...

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

Tidak halal bagi perempuan yang beriman dengan Allah dan hari akhirat untuk keluar tiga hari ke atas melainkan bersama-samanya bapanya atau saudara kandung lelakinya atau suaminya atau anak lelakinya atau mana-mana mahramnya. (di dalam riwayat lain, ada dinyatakan satu hari satu malam, dan dua hari dua malam)-hadith riwayat Bukhari dan Muslim

Demikianlah pembahasa tentang wanita keluar rumah, semoga Allah selalu membimbing dan memberi petunjuk-Nya kepada kita semua. Amin.

Sumber : Fiqih Wanita Karya Ibrahim Muhammad Al-Jamal

Posted on Monday, December 20, 2010 by Qalam Sufi

No comments


Ada seorang manusia yang bertemu dengan syaitan di waktu subuh.

Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan.

Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan solat, maka syaitan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!"

Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan solat,
syaitan tersenyum lebar sambil membatin, " Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"

Ketika waktu asar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asyik dengan kegiatannya, syaitan mulai terdiam......

Kemudian ketika datang waktunya maghrib, temannya itu ternyata tidak solat juga, maka syaitan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan solat Isya', maka syaitan itu sangat panik.

Ia rupanya tidak boleh menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan,

"Wahai sahabat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !"

Dengan kehairanan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?".

"Aku takut !", jawab syaitan dengan suara gementar. "Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, iaitu ketika menolak disuruh sujud pada "Adam", telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata syaitan sambil beredar pergi.

Lihatlah...adakah kita lebih terkutuk dan keji dari syaitan?? 
Fikir-fikirkanlah...Wallahu'alam...

Sumber : rakan facebook ( Asma Qhadeeja )

Posted on Monday, December 20, 2010 by Qalam Sufi

2 comments


Menundukkan pandangan mempunyai banyak sekali faedahnya, antaranya ialah:

1) Menunjukkan tanda bahawa seseorang itu tunduk kepada Allah s.w.t. dan merupakan puncak kebahagiaan seseorang hamba di dunia dan di akhirat.

2) Dapat menangkis serangan anak-anak panah iblis yang sangat panas lagi beracun, yang mana boleh menyebabkan kehancuran.

3) Dapat menghiasi hati dengan sinaran cahaya, melenyapkan kegelapan yang terdapat pada wajah dan anggota badan.

4) Membersihkan hati dari akibat sedih.Orang yang tidak mahu menundukkan pandangannya maka akan kekallah ia dalam kesusahan.

5) Mewariskan firasat yang sihat dan benar yang dapat membezakan antara yang baik dengan yang buruk.

6) Membuka pintu pengetahuan, iman dan makrifat kepada Allah s.w.t. serta hukum-hakamnya.

7) Menundukkan pandangan dapat mewariskan keteguhan dan keberanian.

8) Mewariskan hati dengan kesenangan dan kebahagiaan yang sangat indah.

9) Dapat menyucikan hati dan syahwat yang tersembunyi, maka itulah yang dikatakan tawanan hawa nafsu.

10) Dapat membebaskan hati dah fikiran yang selalu merumitkan, sedangkan bagi mereka yang tidak mahu menundukkan pandangan, fikiran mereka akan hanyut dengan angan-angan yang tinggi.

11) Menguatkan dan meningkatkan daya fikiran.Sedangkan mereka yang tidak mahu, tidak dapat apa-apa hasil kecuali hilang sikap waspada terhadap akibat-akibat buruk yang akan berlaku.

12) Menundukkan pandangan dapat membebaskan hati dari gila syahwat dan menghilangkan sifat lalai. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mahu menundukkan pandangan akan membuatkan dia melupakan Allah dan kampung (alam) akhirat.


Sumber : Rakan Facebook ( Melihat Sinar-Nya )
 

Posted on Monday, December 20, 2010 by Qalam Sufi

No comments

Saturday, December 4, 2010


sekian lama aku mencari diriMu,
namun seringkali aku tersesat,
aku di dalam kegelapan,
menunggu cahaya kasihMu

Setiap titisan air mataku,
kuratapi dengan sedu sedan,
Ya Tuhanku bilakah cinta ini akan berputik,
kerana hatiku ingin hanyut bersamaMu
jiwaku ingin lemas dalam cintaMu,
jasadku ingin hilang bersamaMu...

Ya Rabb,
dengarlah luahan hatiku,
saksikanlah tangisanku,
gelojak hatiku meronta-ronta inginkan diriMu,
tidak terperi menanggung rindu dendam,
setelah sekian lama aku ditinggalkan...

Ya Rabb,
tujuan hidup dan matiku hanyalah padaMu,
ku ingin bersemadi dalam genggamanMu,
ku ingin hilang dalam kabus cintaMu,
ku ingin abadikan sujudku dan tangisku padaMu...

Ya Allah...
ampuni aku...
aku hambaMu yang paling berdosa,
aku hambaMu yang paling hina,
aku hambaMu yang paling lemah,
akulah yang selalu memungkiri janjiku padaMu...

Ya Allah....
kemana lagi akan aku pergi selain padaMu aku kan kembali..
ku merayu padaMu dengan harapan Engkau menerimaku kembali,
aku mengaku akan segala kesalahanku,
ampuni aku wahai Yang Maha Pengampun,
kasihani aku wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Wahai Cinta akhirku,
ku rindu padaMu,
bilakah kita kan bertemu?
antara cinta, pengharapan, dan kerinduan....

Posted on Saturday, December 04, 2010 by Qalam Sufi

No comments


Pada suatu petang....berhampiran surau Fakulti Perakaunan, UUM.

 Seusai solat, saya mengambil tempat di sisi seorang perempuan melayu yang tidak bertudung. Sambil saya membetul-betulkan lipatan tudung, perempuan di sebelah saya menegur.

" Awak, boleh saya tanya?"

"Hmm, iya..boleh" Jawab saya sambil tersenyum.

"Kenapa awak pakai tudung besar-besar ya..tak rimas ke?" Dia bertanya.

Saya terdiam. Tak menyangka, itu soalannya.

"Tapi kenapa ya?"
 
"Tak ada apa-apa..saja nak tahu, sebelum ni tertanya-tanya sendiri je" Dia menjawab. Kelihatan dia benar-benar ingin tahu.
 
Saya tersenyum. Fikiran ligat berputar mencari jawapan yang sesuai. Lama merenung jauh, akhirnya tercerna satu idea.

" Hmm...sebelum saya jawab soalan tu, saya nak tanya awak dulu,boleh?"

Dia mengangguk

"Kenapa ya kalau kita naik kereta digalakkan pakai seat-belt ya? " Saya bertanya dia kembali tanpa menjawab dulu persoalannya.

"erm.." Dia berfikir smbil tangannya memegang dagu mencari jawapan.
 
" Sebab nak selamat la. kalau apa-apa berlaku, atleast kecederaan tu tak la teruk" dia menjawab ringkas.

"Ok, tapi itu kalau berlaku kemalangan kan. Macam mana pula kalau orang yang pandai dan cekap dalam memandu. Perlu ke dia pakai seat-belt ? Saya bertanya lagi untuk menduga.
 
"Eh, kenalah pakai jugak. Even dia dah cekap memandu like Michael Schumache, kenalah pakai jugak sebab kemalangan tu tak mengira siapa..kan? Satu lagi, kadang kemalangan tu bukan sebab kita pun, tapi ada kes kemalangan sebab pemandu lain yang tak berhati-hati akhirnya kita yang menjaga ni pun menjadi mangsa, kan?" Dia bertanya kembali.

"So, apa kaitannya kesalahan pemandu lain dengan selt-belt pulak" Saya terus bertanya.

" Yelah, nak menunjukkan bahawa selt belt tu sangat penting sekarang, sebab pemandu-pemandu jalan raya bukannya semua berhemah. Jadi untuk keselamatan, pakai seat-belt. Kalau dilanggar sekalipun kita tak la cedera teruk atau tercampak keluar"

"Tak rimas ke? kadang orang-orang tak selesa pakai seat-belt, katanya rimas"
 
"Alaa, nak selamat kenalah tahan sikit, kan..soal keselamatan, kena jaga"

Saya tersenyum mendengar penerangannya. Hampir sampai pada tujuan persoalan.
 
"Hmm, itulah jawapan saya pada persoalan awak tadi. Kenapa saya bertudung besar." 

Dia terus memandang saya dengan dahinya yang berkerut.
 
"Ok, lets me explain ya. Persoalan kenapa saya pakai tudung yang besar-besar sama sahaja dengan jawapan awak tadi tentang kenapa kita pakai seatbelt bila memandu. Tujuannya sama. iaitu keselamatan" Saya menjawab mengikut jawapannya pada persoalan tadi. dan dia semakin merenung saya sambil berfikir.

"Tapi kalau tak pakai seat-belt, tak apa-apa kan? Tak berdosa, kan? Asalkan kita yakin kita mampu memandu dengan baik.Tapi yakin ke kita bila kita memandu tanpa memakai seat-belt walaupun memandu dengan baik dan berhemah, kita akan selamat?"
 
Dia menggeleng kepala tanpa suara.
 
" Hmm, thats why saya cuba menjaga keselamatan hidup saya dengan tudung yang besar. Sebab saya tak tahu apa bencana yang sedang menanti. Semuanya untuk tujuan keselamatan ditambah pula dengan galakan agama yang suruh kita menjaga pemakaian yang lebih selamat'. Iya, tudung kecil atau tudung biasa tak mengapa, asalkan mampu menjaga diri sebab dunia sekarang, tau-tau je la kan, banyak godaanya. Kadangkala hanya kita yang berhemah di jalan, tetiba sedar-sedar kita kena langgar, nasib baik pakai seat-belt...hehehe".Saya tergelak kecil. Berharap agar mengundang bibit mesra dengannya.
 
" Dan satu lagi, kereta sekarang macam-macam gaya dan jenama, kan? Orang ramai tergilakan kereta-kereta canggih sehingga lupa nak menjaga keselamatan. Ramai je yang berkereta canggih tapi akhirnya tercampak keluar dari keretanya sendiri apabila berlaku kemalangan yang tidak diigini. Macam tu jugak tudung, sekarang ni macam-macam fesyen, tapi masih lagi tak ikut syariat. Ketat sana, singkat sini. Bukankah itu membahayakan hidup? " Saya tersenyum. Sedaya upaya membuatkan dia terus berfikir.
 
"Tudung besar yang saya pakai ini bukan untuk mintak penghormatan daripada sesiapa pun. Tapi tak lari dari tujuan keselamatan. Selamat untuk diri sendiri, selamat untuk orang lain dan juga yang penting, saya nak cuba penuhi galakkan agama supaya menjaga diri melalui pemakaian."
 
"So, persoalan rimas atau tak, dah terjawab tadi..kan?" Saya bertanya kembali. Dia memandang bebola mata saya mencari pengertian.
 
"Tak rimas ke pakai tudung besar-besar?. Hmm, hanya yang pakai sahaja yang tahu. Kadang tu rimas jugak la, lebih-lebih lagi musim panas. Tapi tahan sikitla, sebab prinsip kita untuk jaga keselamatan. Sebab itu, pemandu yang paling berhemah adalah pemandu yang sentiasa menjaga keselamatannya..betul tak? Saya terus bertanya. Dan dia mengangguk.
 
"So, faham tak kaitan antara tudung besar dengan seat-belt?" Saya bertanya dengan lembut, memancing kefahamannya..
 
Dia mengangguk...
 
"Maaf, saya pergi dulu ya..kelas saya dah nak start" Saya bangun dari kerusi dan mohon mengundur diri.

" Iya" Jawabnya ringkas, masih lagi seolah-olah memikirkan sesuatu.

Saya berjalan meninggalkan dia menuju ke kelas sambil brmonolog sendirian.

'Hmm, ada kaitan jugak ya seat-belt dengan tudung besar ni..sebelum ni tak pernah terfikir' Tersenyum saya..moga hari ini sedikit ilmu itu mampu meluaskan selautan kebaikan...dan membukakan jalan buat mereka yang mencari jalan.. ameen.

dan saya..terus berjalan, sambil membetulkan 'seat-belt' saya yang asyik terasa longgar sahaja pin'nya...kena pakai betul-betul nanti tak selamat...hehe...


by Hanim Napiah

Posted on Saturday, December 04, 2010 by Qalam Sufi

No comments



Dalam adat Melayu perkahwinan dimulai dengan pertunangan sedangkan mengikut cara yg diamalkan dalam masyarakat dulu iaitu nikah gantung adalah lebih menepati maksud khitbah dalam Islam bukannya bertunang. Ada orang yang menyamakan Khitbah dalam Islam sebagai pertunangan adalah tidak tepat.


Akibat dari cara khitbah yang salah telah menjadikan pertunangan sebagai asas untuk menghalalkan "coupling" (dulu disebut berdua2an atau merendet) antara lelaki dan wanita. Ada yang memberi alasan untuk ber'couple' dulu atau bertunang dulu untuk kenal mengenali satu sama lain sedangkan hubungan perkahwinan bukan isu hukum Thourndike "cuba-cuba" atau "trial and error". Ia adalah satu amanah dalam Islam. Ramai di kalangan remaja pernah mengatakan, “Alah, takkan tak boleh couple ustaz, kita ni bukan hidup zaman dulu lagi. Lagipun bukan buat apa-apa, untuk suka-suka aje!”. Ada yang berkata,"Bertunang boleh kenal hati budi, kalau tak sesuai boleh putuskan tapi kalau dah kahwin susahlah, nak bercerai malu!"


Isunya: “Siapa kata tak boleh coupling? Nak bercouple, bercouplelah, tapi kena dengan cara yang halal…iaituBERNIKAH!”.


Apabila persoalan nikah ini diutarakan, ramai yang akan memberikan respon yang skeptik. “Saya belum bekerja!", "Saya masih belajar!", "Mana nak cari duit buat belanja kahwin?”, “Ni bukan main-main, nak bagi anak orang makan apa?”, “Mak Ayah tak bagi!”, “Nak tinggal kat mana? Sapa yang nak bayar sewa rumah” dan 1001 alasan lagi. Kenapa mereka boleh beralasan untuk melakukan perkara yang halal, tetapi tidak langsung mengemukakan alasan untuk melakukan perkara yang haram? Jawapan saya bagi segala persoalan tersebut, mudah sahaja… “Kamu wajib berkhitbah!”.


Khitbah

Secara literalnya, ia membawa maksud “bertunang”. Bertunang menurut adat dan pengamalan orang Melayu adalah perjanjian di antara dua orang insan untuk berkahwin melalui proses ritual tertentu. Definisi itu jugalah yang terdapat dalam pengamalan fiqh klasik dan juga di zaman Rasulullah s.a.w. Definisi ini jugalah yang diamalkan oleh orang-orang Melayu di Malaysia. Malangnya, disebabkan kejahilan masyarakat, hubungan pertunangan yang sekadar perjanjian semata-mata ini, akhirnya dianggap sebagai upacara untuk menghalalkan perhubungan di antara dua pihak yang bertunang. Lebih dahsyat lagi, ada di antara ibu bapa yang menyangkakan bahawa bertunang bermaksud “separuh berkahwin”. Ada pasangan yang bertunang, berpelesiran, berpegangan tangan dan juga bermadu asmara akan cuba menjustifikasikan tindakan tersebut dengan ikatan pertunangan serta mendapat restu ibu bapa kedua-dua belah pihak. Lebih menyedihkan ada yang bertunang kemudian ber'coupling' berakhir dengan keterlanjuran, kemudian putus dengan pelbagai alasan.


Khitbah menurut pengamalan orang Arab moden, terutamanya di Jordan pula amat berbeza dengan pengamalan orang bertunang secara klasikal dan juga pengamalan orang Melayu. Ia merupakan “akad nikah” dalam erti kata yang sebenar. Akad khitbah di dalam masyarakat arab pada realitinya merupakan akad nikah. Seperkara yang membezakan di antara akad nikah dan khitbah ialah kedua-dua pasangan khitbah tidak tinggal bersama sehinggalah selesai majlis perkahwinan dijalankan. Pada dasarnya, mereka berdua adalah suami isteri dan halal untuk melakukan apa sahaja yang difikirkan untuk mereka melakukannya. Di dalam masyarakat kita, pernikahan tersebut diberikan nama “nikah gantung” (bunyinya amat mengerikan?)


Jika ditukarkan nama “nikah gantung” tersebut kepada “nikah khitbah” tentu konotasi terhadap kontrak tersebut tidaklah mengerikan. Bunyinya pun agak “islamik”. Jika ia dapat diamalkan oleh kebanyakan pemuda pemudi kita hatta yang janda,duda atau yang nak berpoligami serta yang dilanda asmara dan cinta serius berkemungkinan ia boleh menyelesaikan banyak perkara yang mereka hadapi.


Nikah adalah untuk menghalalkan perhubungan dan juga membina kematangan. Yang utamanya, kedua-dua pasangan sudah halal dan sudah boleh bersama dan melakukan apa sahaja.Bunyinya agak mudah, namun realitinya tidak demikian. Sudah pasti ada ibu bapa akan tidak bersetuju. Dalam hal ini, anjakan paradigma oleh para ibu bapa amat diperlukan. Ibu bapa perlu sedar zaman anak-anak mereka kini bukanlah seperti zaman mereka dahulu. Zaman kini fitnahnya berleluasa dan kebejatan moral menggila. Lihatlah apa yang berlaku di seluruh tanah air, rasanya pendedahan oleh sebuah akhbar harian baru-baru ini mengenai aktiviti pengguguran cukup merisaukan banyak pihak. Apakah ibu bapa mengharapkan anak-anak mereka menjadi malaikat yang tidak terpengaruh dengan suasana persekitaran, rancangan-rancangan hiburan dan bahan-bahan literasi menjurus ke arah maksiat dan nafsu.


Sudah sampai waktunya para ibu bapa moden membuat anjakan paradigma. Mereka hendaklah menerima realiti jahiliah moden yang menggila ini. Mereka menghadapi dua jalan penyelesaian, sama ada menerima arus liberal dan sekular yang menghalalkan segala perhubungan bebas di antara dua jantina, dan kemudian mereka yang akan menanggung malu. Atau pilihan kedua, iaitu untuk membenarkan anak-anak mereka menikmati alam percintaan dengan cara yang halal, iaitu melalui ikatan perkahwinan. Walau bagaimanapun, membenarkan anak-anak mereka bernikah di dalam ini adalah satu risiko. Maka di sinilah peranan ibu bapa moden untuk membantu anak-anak mereka mengurangkan risiko tersebut demi menyelamatkan agama dan maruah mereka.


Saya sedang berusaha untuk menghidupkan kembali 'nikah gantung' ini dengan panggilan baru iaitu 'nikah khitbah', walaupun menghadapi sedikit masalah penerimaan.  Ia semata-mata bertujuan untuk mengelakkan perkara maksiat yang boleh berlaku seperti berhubungan melalui telefon (melepas rindu dendam melalui telefon, sms, chatting, fb dll), bertemu antara pasangan walaupun ada mahram (tetap akan berlaku bertentang mata dan apa sahaja yang boleh menjadi muqaddimah kepada zina mata, tangan, hati dll.)  Saya sendiri bernikah gantung (nikah khitbah) pada 7.7.1979 iaitu 6 bulan sebelum majlis kenduri. Dengan tiket nikah saya tiada masalah untuk menemui isteri atau keluar bersama-sama (ber'couple') kerana dah disahkan sebagai suami isteri (gantung-sebab tdk duduk serumah) yg lebih menepati khitbah secara Islam. Malah dengan tiket nikah itu membuatkan saya merasai beban amanah sebagai suami meskipun kami tidak serumah sementara menunggu majlis kenduri pada bulan Disember 1979. Saya mahu menjadi ibubapa yg awal pada zaman moden yang penuh kecelaruan dengan menjadikan nikah khitbah dipraktikkan oleh anak-anak saya yang belum berkahwin, insyaAllah. Doakan!!!

WALLAHU'ALAM

Sumber ; rakan facebook

Posted on Saturday, December 04, 2010 by Qalam Sufi

2 comments